
Pengantar
Setelah pemerintah frustasi, karena rencananya untuk menghapus BBM jenis premium dari tengah masyarakat banyak menghadapi penolakan, termasuk dari para ulama’ dan tokoh-tokoh ormas, maka pemerintah pun menggunakan Ma’ruf Amien untuk mengeluarkan fatwa aneh seputar haramnya orang kaya menggunakan premium. Meski istilah “menggunakan Ma’ruf Amien” ini ditolak oleh Menteri ESDM, tetapi kesimpulan ini tidak bisa ditolak, karena fatwa ini dinyatakan Ma’ruf Amien, setelah pertemuan antara kementerian ESDM dengan MUI (27/6/2011). Pimpinan PP Tebuireng, Jombang, KH Shalahuddin Wahid, atau akrab dipanggil Gus Sholah, yang juga cucu Hardratus Syaikh Hasyim Asy’ari, menyatakan bahwa fatwa ini bukan merupakan sikap MUI, tetapi masih pandangan pribadi Ma’ruf Amien (29/6/2011). Baca Lanjutannya…






Buku The Islamist, yang edisi bahasa Indonesianya diberi judul Matinya Semangat Jihad – Catatan Perjalanan Seorang Islamis (Alvabet, 2008), ditulis oleh Ed Husain. Dalam buku ini, Ed Husain menggambarkan dirinya sebagai aktivis gerakan Islam, termasuk Hizbut Tahrir Britain (HTB) di London Inggris. Tapi setelah mengalami berbagai fase peristiwa, akhirnya ia memutuskan meninggalkan semua aktivitas itu dan memilih jalan spiritual sufi. Fase-fase peristiwa, khususnya semasa kurun 2 tahun ia bersama HTB, itulah yang menjadi isi utama dari buku ini. Jadi, buku The Islamist boleh juga disebut sebagai biografi spiritual atau cerita perjalanan spiritual dari seorang anak muda keturunan imigran muslim Pakistan yang hidup di negeri Barat. Tapi lebih dari sekedar cerita perjalanan spiritual, buku ini sesungguhnya juga sarat kritik intelektual terhadap berbagai gerakan, khususnya terhadap HTB – sesuatu yang kemudian menjadi alasan Ed Husain meninggalkan semua gerakan-gerakan itu. Sebagai sebuah kritik, tentu buku ini sangat dipengaruhi oleh subyektifitas penulis, termasuk tingginya kadar emosi dari seorang anak muda dan rendahnya pengetahuan ke Islaman penulis yang memang tidak memiliki latar belakang keilmuan yang memadai mengingat ia bukanlah berlatar pendidikan tsaqafah Islam.
Pernyataan bernada Rasis RUHUT SITOMPUL pada acara yg digagas Salah satu televisi Swasta, Metro TV pada tanggal 28 Mei 2009 lalu masih belum hilang begitu saja. Walaupun Partai Demokrat telah memberikan teguran kepada pemain sinetron ini, sentimen atas pernyataan rasisme masih mengiang-ngiang hingga saat ini di berbagai media massa dan tak terkecuali di Internet.
Pemilihan Umum (Pemilu) 9 April 2009 tinggal beberapa hari lagi. Partai politik peserta pemilu telah semarak meramaikan kampanye di berbagai kota hingga ke pelosok sudut pedesaan. Iklan politik calon legislatif baik DPR, DPD, DPRD merebak ke berbagai media massa baik melalui televisi, internet, koran-koran, majalah-majalah dll. Sementara itu tidak kurang Rp.13,5 Triliun dana APBN digelontorkan oleh KPU untuk hajatan lima tahunan prosesi demokrasi untuk memilih para wakil rakyat dan presiden serta wakil presiden masa jabatan 009 s.d 2014.
Dalam situasi yang serba sulit ini, hendaknya kaum muslimin tidak mudah menyerah dalam mencapai visinya, yaitu mengalahkan Israel dan merebut Jerusalem yang insya Allah akan menjadi ibukota Negara Khilafah. Dalil-dalil yang menguatkan hal tersebut berasal dari al-Qur’an dan al-Hadist adalah antara lain:
Pembantaian Massal Muslim Gaza
